Lebaran 1434 H

Mudik hari pertama:

Kami berangkat dari Duri, Riau, pukul 7 pagi. Sesampainya di Rumbai pukul 9 pagi langsung silaturrahmi ke rumah keluarga Inyik (Kakek) yang juga tempat tinggal tanteku yang paling bungsu bersama keluarganya. Kelar dari sana langsung ke airport ngurusin tiket yang bermasalah. Ternyata Alhamdulillah tiketnya gak ada masalah lagi, jadi gak lama setelah itu kami langsung pamit sama keluargaku yang lanjut mudik ke kampung halamanku di Bukittinggi, Sumbar. Ternyata kami belum bisa check-in, jadi nunggu sejam lagi. Begitu check-in dibuka kami langsung naik ke ruang tunggu. Gak lama kami dipersilahkan naik ke pesawat, setelah 1,5 jam terbang kami pun tiba dan transit di bandara Soetta, Tangerang.

Karena transit di sini bakalan lama banget, akhirnya siang itu aku sempatkan untuk nyuapin Alif makan, setelah itu aku dan Suami berganti-gantian makan. Pukul 19.30 seharusnya udah boarding nih, tapi ternyata kami gak juga dipanggil. Firasat udah buruk aja deh.. bakal di-delay lama. Ternyata bener, pukul 21.00 kami baru benar-benar diberangkatkan ke Semarang :( Aku berharap banget selama di pesawat Alif mau tidur, soalnya takut dia kecapean. Tapi dia gak mau tidur, untungnya masih anteng terus. Selama di atas pesawat dia asyik ngeliatin buku katalog pesawat sambil ngemilin kue yang disediakan maskapai. Pukul 21.55 kami tiba di Semarang dijemput oleh keluarga Suami, lalu menyempatkan diri makan sebentar di tempat mertua. Trus istirahat.

Mudik hari kedua:

Pukul 7 pagi, setelah aku, Alif dan Suami selesai sarapan, kami langsung berangkat ke Boyolali, kampung halaman Bapak mertua. Kami berangkat bersama Ibuk, dan kedua adik iparku. Alhamdullillah perjalanan hari itu lancar. Gerbang tol baru Semarang – Solo udah dibuka dan gratis masuknya karena masih uji coba. Lalu lintas ramai lancar, jadi perjalanan kami tidak menempuh waktu yang sangat lama dan tidak macet sama sekali seperti yang kami kira sebelumnya. Tiba di Boyolali langsung ikut acara kumpul keluarga besar Bapak mertua. Acara ini rupanya udah jadi tradisi di keluarga besar Beliau. Puluhan orang hadir di sana. Ada ceramah, ramah tamah, pembacaan do’a, salam-salaman dan terakhir makan-makan. Keseluruhan acara disampaikan dalam bahasa Jawa. Aku cuma celingak-celinguk mencari temen senasib yang sama-sama gak bisa bahasa Jawa. Hehehe :D Tapi acaranya bagus, menarik dan ini hal yang baru buatku karena sejak menikah dengan Suami, ini adalah kesempatan pertamaku dan Alif bisa berlebaran di sana :) Tadinya setelah acara Kami mau lanjut ke Solo (bahkan ke Jogja). Tapi karena takut lalin macet parah akhirnya kami memutuskan untuk langsung balik ke Semarang. Ternyata lalu lintas ke Semarang masih ramai lancar dan kami pun tiba di Semarang lebih cepat dari waktu diperkirakan.

Malamnya aku dan Suami ngajakin keluarga untuk makan bersama diluar mumpung semua anak-anak dan cucunya Bapak Ibuk sedang berkumpul. Adik iparku juga ngajakin pacarnya (ihiy :D ). Aku dan Suami langsung nyari restaurant keluarga yang bagus untuk bercengkerama dan photo-photo :D Ternyata KoenoKoeni Restaurant & Gallery yang kami hubungi udah penuh reservasinya, kami disarankan untuk langsung datang aja. Malam itu kami gak kebagian tempat indoor dan akhirnya Kami duduk di tempat outdoor yang ternyata kurang nyaman untuk Alif. Alif ketakutan waktu ngedenger suara kembang api :( Untungnya di sana ada playground indoor untuk anak-anak. Aku ngajakin Alif main di sana sebelum makan malamku datang. Sewaktu makananku datang, Alif udah gak papa. Kelar makan kami sekeluarga berphoto bersama lalu pulang.

Mudik hari ketiga:

Harusnya pagi itu aku, Alif dan Suami bersilaturrahmi ke rumah keluarga besar Ibu mertua. Tapi ternyata Alif lagi bete banget pagi itu. Mungkin karena dua hari sebelumnya dia banyak jalan, aku khawatir dia kelelahan. Akhirnya aku pun memutuskan untuk menemani Alif aja sambil mengusahakan asupan makan yang cukup untuknya. Sementara Suamiku tetap pergi bersama keluarga mertua mengunjungi keluarga besar Ibu mertuaku. Siangnya saat Suami pulang, Alif tidur. Aku biarin aja dulu supaya dia cukup istirahat.

Alif bangun sorenya lalu aku ngajakin dia makan diluar sambil jalan-jalan supaya tetep happy. Kebetulan kemarin sewaktu balik dari Boyolali Aku sempat melihat sebuah restauran keluarga yang cocok untuk Alif, namanya Cimory Restaurant & Milk Factory. Dan bener banget, Alif happy banget ke sana! Begitu datang kami langsung photo-photo, ngajakin Alif ngeliat beberapa ekor sapi yang ada di sana trus ngajakin main di area bermain yang disediakan. Setelah itu kami duduk dan memesan makanan di restaurannya. View tempatnya bagus banget, tepat di seberangnya ada hamparan sawah yang hawanya sejuk banget. Tempat ini memang udah jauh dari kota Semarang dan tempatnya berada di dataran tinggi. Selesai makan kami langsung balik ke Semarang. Untungnya tol Bawen yang tadinya masih ditutup langsung dibuka malam itu. Perjalanan pulang lancar dan Kami bisa tiba lebih cepat.

Mudik hari keempat: 

Pagi sekali Bapak dan Ibuk mertua mengantar kami ke bandara. Agak sedih rasanya karena kami hanya punya waktu sebentar aja untuk mudik. Apalagi kayanya Bapak dan Ibuk belum puas ketemu Alif :( *maaf ya pak, Buk.. :( * Di ruang tunggu aku masih sempat nyuapin Alif. Setelah itu pesawat Kami tiba dan selama di pesawat Alif juga masih sempat tertidur sebentar. Saat transit di Soetta, aku dan Suami memutuskan untuk duduk dan beristirahat di restauran yang ada di bandara sambil menyuapi Alif lagi *selama travelling ini Alif harus tetep dijaga makan, istirahat, dan mood-nya* , lalu kami berganti-gantian makan. Selama di bandara ini Alif lasak banget lari ke sana kemari, untungnya dia gak rewel. Siangnya pesawat kami datang dan berangkat ke Pekanbaru. Tiba di Pekanbaru, aku ketemuan sama Papa dan saudara kembarku Nilla. Kami masih sempat photo bersama sebelum aku naik mobil kembali ke Duri dan Nilla balik mudik terbang ke Serpong. Sedih banget karena kami harus langsung berpisah, padahal besoknya itu hari ulang tahun kami :( Gak lama Nilla pamit dan aku kembali berangkat ke Duri bersama keluargaku.

Berlebaran dengan tetangga:

Berhubung semua penghuni di komplek tempat kami tinggal ini adalah para pendatang semua, jadi gak ada yang berlebaran di sini. Akhirnya diselenggarakan acara silaturrahmi beberapa hari setelah lebaran saat sebagian besar keluarga udah balik dari mudik. Acaranya sekedar ramah tamah, perkenalan (karena beberapa keluarga masih baru pindah ke sini), acara makan malam dan dilanjut menyambangi salah satu tetangga yang baru aja lahiran. Untungnya selama acara Alif anteng banget, banyak temennya dan seneng main bareng.

Yang berbeda..

Gak ada tradisi bagi-bagi ampao lebaran di tempat keluarga besar Bapak mertua saat itu. Sebelumnya aku hampir gak percaya waktu Suamiku bilang di sana mereka gak biasa membagi-bagikan atau pun menerima ampao lebaran saat masih kecil. Hal ini berbeda sekali dengan tradisi berlebaran di kampung halamanku di Riau dan Sumatra Barat, di mana orang yang telah bekerja atau berkeluarga biasa membagi-bagikan ampao lebaran untuk anak-anak atau adik yang masih bersekolah. Selain itu biasanya kami menyambangi keluarga satu persatu mulai dari anggota keluarga yang dituakan, bisa aja beberapa anggota keluarga akhirnya berkumpul di satu rumah karena kebetulan sedang menyambangi rumah anggota keluarga yang sama. Tapi gak ada acara kumpul keluarga besar seperti yang aku alami di kampung halaman Bapak mertua. Menariknya lagi tradisi ini juga yang mulai diterapkan diacara silaturrahmi dengan para tetangga kemarin. Kami udah berkumpul semua untuk bersilaturrahmi dalam satu acara aja, jadi gak perlu ngider lagi ke beberapa rumah seperti yang biasa terjadi di tahun-tahun sebelumnya :D

Terakhir, mohon maaf lahir bathin ya atas segala perbuatanku yang kurang berkenan :) Selamat Idul Fitri! :D

2 Comment

  1. Wah bandara skk sudah bagus ya. Tradisi saya dan suami (betawi) juga terasa berbeda. Saya kan juga orang riau terbiasa ada tradisi bagi thr dan berlebaran dari rumah yg di tuakan hingga sepupu, ternyata keluarga suami tradisinya hanya lebaran ditempat yg sudah direncanakan bersama keluarga besarnya. Hehe. Saya sih lebih suka tradisi di riau lagipula di jakarta spt tidak hari raya..

Leave a Reply