Berkunjung ke Negeri Seribu Kubah, Bagansiapiapi

Sebetulnya perjalanan kali ini dilakukan bukan dalam rangka jalan-jalan. Kebetulan suamiku sedang ada perlu untuk mengurus ijin praktek di kota Bagansiapiapi, jadi aku ikut menemani. Yah.. itung-itung suamiku jadi ada temen ngobrolnya selama di perjalanan, jadi gak ngantuk dan ada temen “bingung”nya. Hehehe ;)) Dari kota Duri ke kota Bagansiapiapi menempuh perjalanan sekitar 2 jam 55 menit. Tapi berhubung suamiku itu “pembalap” antar kota, akhirnya perjalanan ditempuh dalam waktu kurang dari 2 setengah jam saja. Hihii :P

Ini pengalaman pertamaku ke kota Bagansiapiapi. Sedikit info mengenai kota ini; kota Bagansiapiapi  juga dikenal dengan nama Bagan, merupakan ibu kota kabupaten Rokan Hilir, Riau. Kota ini juga merupakan ibu kota kecamatan Bangko. Pertama kali sampai di kota Bagan, aku melihat landmark berbentuk 5 ekor ikan raksasa di tengah putaran jalan. Sepertinya landamark ini sebagai tanda bahwa kami sudah memasuki kota Bagansiapiapi yang juga dijuluki Kota Ikan, karena konon katanya dulu kota ini terkenal sebagai penghasil ikan. Sampai ada museum ikan juga lho di sini :D

Ada hal yang cukup unik yang aku jumpai begitu memasuki kota Bagan. Aku dan suamiku kaget karena di jalan ada ibu-ibu yang sedang mengendarai sepeda motor dan di depan motornya disangkutkan payung! Baru di Bagansiapiapi aku menemukan hal seperti ini :)) Semakin masuk ke kota, pemandangan ini semakin banyak, ternyata sudah umum payung motor dipakai oleh masyarakat Bagan. Rata-rata penggunanya adalah ibu-ibu dan remaja putri, sesekali ada juga laki-laki yang terlihat menggunakannya. Aku sempet mikir apa gak berbahaya ya pakai payung seperti itu di sepeda motor? Apa gak terbang tuh payung kalau ditiup angin? Setelah diperhatikan, payung ini memang memiliki tiang penyangga khusus yang disangkutkan di sepeda motor. Yah.. mudah-mudahan udah teruji aman deh payung ini. Tapi ada yang lebih bikin miris lagi sih sebenarnya.. masih banyak pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm saat berkendara. Padahal payung aja belum cukup aman, ya..? :(

Beralih ke hal lainnya, aku dan suami sempat melewati bangunan megah yang beberapa bagian desainnya ada kemiripan dengan white house yang ada di Washington, DC. Hihii.. ;)) Tapi bangunannya memang tampak megah sekali lho. Ternyata ini adalah kantor Bupati Bagansiapiapi yang baru. Tapi kantor ini terlihat sepi, di depannya hanya terlihat beberapa anak muda yang sedang duduk-duduk. Aku bertanya-tanya apa mungkin karyawan kantor sedang libur? Ternyata berdasarkan info dari salah seorang teman yang pernah tinggal di Bagan, kantor bupati yang baru ini memang tidak jadi dipakai karena ada kesalahan konstruksi bangunan, sehingga bangunan kantor miring dan cukup beresiko jika ditempati. Jadi untuk sementara kantor bupati masih di tempat yang lama (aku lupa nama jalannya). Wah.. sayang sekali ya? Padahal bangunannya megah dan cantik sekali.

Tidak jauh dari kantor bupati baru itu ada tempat objek wisata bernama Batu 6, di sana ada area bermain anak-anak dan beberapa PKL yang berjualan. View-nya muara sungai rokan. Sayangnya objek wisata ini juga kurang terawat dan saat itu sepi pengunjung (mungkin juga karena saat itu weekday).

Sebetulnya ada lagi satu objek wisata yang sepertinya cukup potensial untuk menarik minat wisatawan, namanya The Bay Park. Awalnya aku melihat sebuah banner di tengah jalan yang menunjukkan bahwa objek wisata ini telah dibuka sekaligus memberikan arahan bagaimana caranya menemukannya. Karena penasaran, aku dan suami menelusurinya. Ternyata objek wisata ini lebih terlihat seperti tempat wisata yang masih sedang dibangun. Hanya ada beberapa kendaraan sepeda air, selebihnya hanya pemandangan konstruksi yang bahkan di sana masih ada eksavator yang sedang bekerja. Aku kurang tau pasti kapan objek wisata ini akan benar-benar dibuka. Mudah-mudahan saja tidak lama lagi :D

Header Bagan Nieke Collage fixed

Karena sudah cukup cape’ muter-muter ke beberapa kantor, akhirnya aku dan suamiku memutuskan untuk makan siang. Sebelumnya aku sempat googling dan bertanya kepada teman yang pernah ke sini, kira-kira kuliner apa yang patut dicoba di sini. Banyak yang merekomendasikan kami untuk mencoba seafood. Tapi ternyata cukup sulit menemukan rumah makan yang menjual seafood di siang hari saat itu. Kebanyakan rumah makannya tutup, atau bahkan belum buka. Petunjuk dari foursquare pun minim sekali, bahkan beberapa venue terlihat berada di pin yang lokasinya tidak akurat dan ini membuat kami semakin kebingungan. Setelah berputar-putar beberapa kali akhirnya kami menemukan sebuah rumah makan yang menjual seafood, namanya RM Gembira. Sebetulnya di foursquare muncul juga nama rumah makan ini, tapi alamat dan pin venue-nya salah, sehingga kami kesasar beberapa kali :( Menu yang kami pesan saat itu cumi tauco dan udang goreng tepung. Aku mengidolakan cumi tauconya yang enak banget! Perpaduan gurih segar dan cuminya juga dimasak dengan baik, sama sekali tidak kenyal dan bumbunya meresap. Untuk udangnya rasanya hampir sama dengan udang goreng tepung biasa. Kepala udangnya tidak dipotong sehingga renyah digigit saat masih hangat-hangat.

Setelah kenyang kami melanjutkan perjalanan kembali, kali ini kami mampir untuk shalat dzuhur. Akhirnya kami sampai di Mesjid agung Al Ikhlas. Mesjid ini bagus, besar, dan bersih. Bahkan kalau dibandingkan dengan mesjid rayanya, mesjid agung ini kelihatan lebih besar dan lebih “mentereng”. Hehe. Kubahnya berwarna coklat tembaga dan memiliki beberapa menara di sekelilingnya dengan warna kubah yang sama.

Ngomong-ngomong soal kubah, kota Bagansiapiapi juga dikenal dengan julukan “Negeri Seribu Kubah”. Jadi tidak heran begitu masuk ke kota ini kita akan melihat banyak sekali bangunan yang memiliki kubah di atasnya. Tidak hanya mesjid, tapi juga kantor pemerintahan, muesum, kantor dinas pendidikan, rumah dinas, bahkan bangunan di taman budaya. Karena hal ini cukup unik maka kami sempatkan untuk berhenti sebentar mengunjungi salah satu tempat yang memiliki kubah yaitu Taman Budaya. Di sini ada beberapa bangunan yang di atasnya ada kubah berwarna keemasan yang mengelilingi sebuah lapangan yang sepertinya biasa dipakai untuk berbagai pertunjukan.

Setelah selesai berphoto dan melihat-lihat kami pun melanjutkan perjalanan kembali ke kota Duri.

Bye bye, Bagan! Mudah-mudahan kami memiliki kesempatan lagi untuk berkunjung dan lebih meng-eksplore kota ini di lain waktu! :D

1 Comment

  1. Tiara says: Reply

    Wehhh,,,itu baru ada ya motor pakai payung,,unik tapi rawan terjadinya bahaya.

Leave a Reply