Mudik Lebaran 2016: Bukittinggi – Harau..! [3D2N]

Lebaran tahun ini sebetulnya sudah aku dan suami rencanakan untuk mudik ke kampung suami di Jawa. Tapi berhubung suamiku sekarang kerja dengan sistem mandah, jadwal masuk dan off nya jadi berubah lagi. Ternyata lebaran kali ini suami harus tetep masuk kerja, baru handover dan balik ke Duri saat lebaran hari kedua. Rencana ini pun dibuat agak mepet, tapi alhamdullillah lancar dan menyenangkan meskipun ada aja kejadian yang tak terduga.. hihii.. ;))

Hari #1: Duri – Rumbai – Bukittinggi

Karena memang udah niat mau jalan-jalan, karena udah ngerasain lebaran di Duri itu rada garing (hehe)..  dan berhubung sudah 4th aku dan suami gak mudik ke Sumbar, akhirnya kami sekeluarga besar merencanakan untuk tetep berangkat mudik begitu suamiku tiba di Duri – pagi hari saat lebaran hari kedua. Sebelum berangkat, kami photo keluarga dulu. Soalnya mumpung formasinya lengkap, semua saudara yang tinggal di Jakarta kebetulan juga lagi mudik ke sini.

Setelah berphoto pukul 10 pagi, 2 rombongan mobil kami berangkat. Pertama mampir dulu ke rumah tanteku di Rumbai, sampai di sana pukul 1 siang. Setelah silaturahmi dan makan siang di rumah tanteku, kami melanjutkan perjalanan. Situasi jalan saat itu ramai lancar. Sampai di jembatan Danau buatan PLTA Koto Panjang pukul 5 sore kami sempatkan untuk istirahat dan makan sebentar. Sebagai antisipasi kalau nanti kami tiba kemalaman dan gak sempet untuk mampir makan malam lagi.

Selesai makan kami melanjutkan perjalanan kembali. Ternyata semakin dekat ke Sumbar, jalanan semakin rame dan kami sempat terkena macet di beberapa titik. Pukul 7 malam kami berhenti sebentar untuk mengisi bensin dan membeli cemilan lalu melanjutkan perjalanan kembali. Ternyata gak lama setelah itu AC mobilku mati :( . Kami terpaksa membuka jendela mobil lebar-lebar.

Sialnya lagi, di kelok 9 lalu lintas macet total! Duh, cobaan banget deh pokonya. Untung ada cemilan dan sudah ‘isi perut’. Dari awal pun kami semua sudah bikin kesepakatan, apapun yang terjadi perjalanan ini harus dibuat happy :D Jadi meskipun panas dan macet total, aku, suami, Alif, dan adik-adikku yang ada di mobil kami berusaha ‘menghibur’ diri supaya gak bete. Hihiii.. ;)) Saat macet itu jadi sesi curhat, becandaan, dan kadang jadi waktu untuk saling bully :D . Pokoknya bawaannya seneng aja deh! Padahal rasanya lelah, pusing, sampe berasa masuk angin karena kaca mobil harus dibuka terus ;)) Supaya suara bising yang terdengar jadi sedikit “menyenangkan”, akhirnya kami setel musik ‘ajeb-ajeb’ dengan deretan lagu UK Top 40 lumayan kenceng. Pas lah.. makin kayak angkot deh itu mobil! :)) Kadang kami ikut nyanyi dan cuek aja diliatin orang di samping. Ahahaha :))

Setelah melewati ‘banyak cobaan’, akhirnya pukul 11 malam kami sampai di Bukittinggi, tepatnya di Kabupaten Empat Angkek Canduang / Candung, tanah kelahiran papaku. Karena kemalaman, saudara-saudara sepupu dan anak-anak mereka sudah tidur. Hanya mak uwo dan pak uwo (bibi dan paman) yang masih terjaga karena menunggu kami datang. Begitu sampai kami sempat ngobrol sebentar. Setelah itu kami semua lanjut istirahat dan tidur.

Hari #2: Canduang – Ngungun

Pagi hari setelah shalat subuh, aku sempatkan untuk keluar rumah sebentar. Sekedar duduk di teras depan. Kebetulan view di depan rumah alm. antan (kakek) dan nenekku itu indah khas pedesaan; hamparan padi dan di belakangnya ada gunung Marapi. Pagi itu aku masih bisa melihat sunrise, dihiasi sedikit embun. Ahh sayang banget moment ini gak sempet aku abadikan karena asik duduk dan menikmati pemandangannya :)) Setelah itu aku mandi, membersihkan kamar dan mengurus Alif. Lalu kami semua sarapan bersama.

Pukul setengah 11 siang kami baru keluar  berangkat ke kampung halaman mamaku – Ngungun, namanya. Di sana ada saudara perempuan nenekku dan keluarganya. Kebetulan aku belum pernah bertemu dengan salah seorang ponakan yang lahir di sana, jadi begitu melihat ponakanku itu aku langsung menggendongnya :D . Tetep sih ditanyain soal kapan Alif punya adik.. mungkin karena aku seneng banget gendong-gendong anak orang yang masih kecil ;))

Sebelum makan siang, keluargaku disuguhi makanan khas sana yaitu rendang itik yang empuk dan enak. Alif juga suka dengan rendang ini, waktu disuapin dia gak nolak. Meskipun bumbunya dibuat agak pedes :D . Selain itu ada juga lamang tapai yaitu lemang yang dibakar di dalam bambu lalu dimakan bersama tapai ketan hitam. Lagi-lagi aku sempet ‘gelo‘ sendiri karena gak sempet mengabadikan photo kedua makanan khas ini, padahal keduanya jarang ditemui di tempat aku tinggal :( *ini sih kebiasaan blogger banget yak! :)) *.

Selesai makan siang, semua lelaki berangkat ke mesjid untuk shalat Jum’at. Yang wanita masih berkumpul untuk mengobrol. Setelah para lelaki datang, kami semua pamit. Di tengah perjalanan balik ke mobil, kami ‘disuguhi’ pemandangan indah, mulai dari buah cocoa yang sudah hampir masak, hamparan padi yang sebagian sudah menguning, dan beberapa ternak seperti itik dan kerbau. Duh, bahagia banget kayanya kalo tinggal di sini.. :)

Setelah dari Ngungun, kami melanjutkan perjalanan balik ke Canduang. Sempat mampir sebentar ke rumah saudara lain di sana, tapi ternyata mereka sedang tidak di rumah (gak nelpon dulu sih.. Pengen surprise tapi gagal! :D). Akhirnya kami balik lagi ke rumah. Sore itu panas. Sudah cukup lama kata sepupuku kampung ini tidak sedingin dulu. Aku ingat betul waktu kecil aku selalu malas mandi pagi karena suhu pagi di sana bisa membuat kukuku membiru dan tubuhku keluar embun seperti asap, dan saat sore menjelang malam suhu sudah mulai dingin lagi. Tapi sore itu terik. Begitulah, efek global warming-nya.

Berhubung panas terik, aku ambil kameraku lalu aku ajak keluarga dan adik-adikku untuk berphoto dengan view hamparan padi dan gunung Marapi itu. Apalagi ternyata gak jauh dari sana ada rumah gadang. Seru deh pokoknya, apalagi pas sesi photo di tengah sawah ini.. Agak-agak uji nyali kayanya karena kami harus melewati jalan setapak dengan kondisi kiri kanan sawah. Jadi kalo salah melangkah bisa nyebur beneran masuk ke sawah! Hihii..

Malamnya kami gak ke mana-mana lagi. Sisa capek kemarin rasanya masih terasa dan ini membuat aku males untuk keluar lagi malam itu.

Hari #3: Bukittinggi – Harau – Duri

Hari terakhir, aku pikir gak bisa nih paginya dilewatkan begitu aja seperti kemarin. Akhirnya saat pagi habis mandi itu aku masih sempat melihat sunrise dan memoto beberapa pemandangan pagi, saat itu Marapi masih dikelilingi embun. Gak hanya itu. Entah ide apa yang ada di kepalaku, aku sampai meminjam ‘properti’ mak uwo seperti cangkul dan topi untuk nyawah ;)) Ternyata bagus juga hasilnya karena objek photonya cakep pemandangannya indah sekali pagi itu. Setelah itu kami balik ke rumah untuk sarapan dan siap-siap untuk balik. Gak lupa tradisi bagi-bagi ‘salam tempel’ untuk semua ponakan :D

Sebelum berangkat kami berphoto bersama karena ini moment yang jarang banget terjadi. Kami semua bisa berkumpul dan berphoto bersama. Akan jadi moment yang susah untuk diulang kembali :)

Lalu kami berangkat dan mampir ke Harau, karena sejak tiba di Sumbar kami belum sempat  berwisata. Ternyata di Harau ada banyak sekali wisata alamnya. Bisa dibilang satu kawasan Harau ini khusus untuk tempat wisata aja. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah wisata sampan. Yang sempat mencoba naik sampan hanya aku, suami dan Alif. Selebihnya hanya menunggu di mobil. Ternyata Alif suka banget naik sampan. Berbeda dengan aku yang udah ‘ampun-ampun’ mau udahan karena sampannya beberapa kali miring dan terasa mau jatuh ke air :))

Ternyata membawa sampan ini juga gak mudah. Perlu koordinasi yang baik antara pendayung yang di depan dan belakang. Kalo gak, yaa.. Bakal kayak aku dan suami. Beberapa kali sampan kami tabrakan dan berputar-putar karena koordinasi antara aku dan suami yang kurang baik serta pemahaman kami soal arah pergerakan sampan ini sangat buruk. Yah maklum, yang bawa belum punya SIM soalnya :))

Selesai bermain sampan, kami melanjutkan perjalanan ke air terjun Harau. Sayang sekali saat kami ke sana air terjunnya sedang ‘seret’. Karena bosan kamipun berjalanan kaki ke arah wisata sepeda air. Kebetulan di sana juga ada taman dan playground. Jadi kami berpiknik sebentar di sana, membentangkan tikar dan mengeluarkan cemilan. Alif sempat main di playground lalu bosan. Akhirnya suami mengajak kami untuk mencoba sepeda air. Sambil menunggu antrian, aku mencoba mie kerupuk kuah yang porsinya gede banget. Di Duri juga ada mie ini (kalau tidak salah namanya mie lasa, mie yang diletakkan di atas kerupuk ubi lalu disiram kuah sate padang). Tapi porsinya gak segede ini.

Begitu selesai ngemil dan antrian selesai, kami mencoba sepeda airnya. Pemandangannya cantik. Di seberang ada taman lagi, dan hamparan di belakangnya ada lembah yang cantik tinggi sekali. Setelah berkeliling dengan sepeda air, kami kembali ke rombongan. Lalu balik ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Sebetulnya ada satu lagi wisata yang ingin dicoba Alif, menunggang kuda. Tapi berhubung waktu sangat terbatas akhirnya permainan itu urung kami singgahi.

Ternyata ada satu tempat saudara yang masih mau kami kunjungi yaitu tempat om ku, sepupunya mama. Kata mamaku, rumah om ku itu gak gitu jauh dari sana. Tapi ternyata karena macet, untuk bolak balik saat itu memakan waktu sekitar 3 jam. Oiya ini sudah termasuk waktu yang kami habiskan saat singgah makan siang di rumah makan nasi kapau.

Ngomong-ngomong soal nasi kapau, kalau makan di tempat makan ini aku suka memesan gulai usus khas nasi kapau yang kenikmatannya gak diragukan lagi. Tapi berhubung di Harau tadi aku sudah banyak ngemil, makan pop mie, dan makan mie kerupuk kuah jumbo, akhirnya di rumah makan itu aku hanya memesan minuman dan menyuapi Alif ;)) .

Setelah itu perjalanan kami lanjutkan. Alhamdullilah arus balik ramai lancar dan tidak semacet saat kami berangkat. Sempat kami berhenti sebentar di kelok 9 untuk berphoto karena saat terakhir aku mudik, kelok 9 belum selesai konstruksinya. Saat itulah aku baru bisa benar-benar melihat kemegahan konstruksi jembatan layang kelok sembilan. Sebetulnya lebih asik lagi kalo mampir menikmati hangatnya jagung bakar di sana. Tapi berhubung kami masih kenyang, akhirnya kami melanjutkan perjalanan saja.

AC mobil masih gak beres, sepanjang perjalanan dari Bukittinggi tadi panas, dan jadi gak begitu terasa karena kami diterpa angin dari jendela. Hehe. Usai magrib kami mampir makan malam di rumah makan soto minang di kawasan Rantau Berangin. Sempat ada diskusi antara papa dan suamiku karena kami masih harus melanjutkan perjalanan malam hingga sampai ke Duri. Pertimbangannya antara mau lewat Petapahan atau jalur biasa lewat Rumbai. Akhirnya dipilih lewat Rumbai, meskipun perjalanan jadi sedikit lebih panjang tapi relatif lebih aman untuk perjalanan malam. Pukul setengah 11 malam kami sudah tiba kembali di rumah. Semuanya langsung masuk ke kamar untuk istirahat dan tidur, unpacking-nya ditunda karena udah kehabisan energi malam itu. Hihii.. ;))

Overall, mudik kali ini melelahkan.. Sangat. Membuat aku jadi berpikir bahwa anggapan : “berangkat mudik saat hari H lebaran gak bakal kena macet” itu salah besar! :)) Tapi, kapok gak? Enggak dong! Bakal selalu ada alasan untuk mudik pulang.

Header Blog Nieke Lebaran 2016 fixed

Kehangatan keluarga, kuliner dan pemandangannya yang indah itu akan selalu ‘memanggil’ pulang :)

1 Comment

  1. Tiara says: Reply

    Asyiknya yang liburan dan bertemu dengan keluarga.

Leave a Reply