Mengunjungi Kota Batik, Solo

Seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya kami tiba di Solo diantarkan langsung ke hotel dengan shuttle bus. Saat itu kami meninap di Hotel Grand Sae Solo dan tiba di hotel malam hari. Begitu urusan check-in kelar, kami langsung ke kamar dan memesan makanan dengan memanfaatkan jasa room service saja. Setelah itu kami sempat keluar sebentar ke mini market di dekat hotel dan kembali beristirahat di hotel agar dapat menyimpan energi untuk besoknya, karena besok suami masih belum ada acara jadi kami bisa berjalan-jalan seharian ;)

Belanja Batik di Kampung Batik Laweyan

Awalnya bingung mau ke mana. Karena kalau dibaca dari hasil googling, tempat untuk membeli batik di Solo itu ada banyak sekali. Namanya juga kota batik, ya.. ;)) Akhirnya kami memutuskan untuk ke Kampung Batik Laweyan aja yang katanya lokasinya lebih strategis. Ternyata lokasinya cukup dekat dari rumah bu Dhe-nya suamiku. Kami ke sana menggunakan taksi mahkota yang menggunakan mobil avanza. Hmm.. unik juga. Di kota tempatku tinggal belum ada taksi model begini ;)) Tarif minimalnya 25ribu dan ada tarif khusus untuk lokasi tertentu seperti bandara atau stasiun kereta api. Taksinya cukup nyaman, driver-nya ramah dan informatif mengenai Solo. Oleh supir taksi kami dianjurkan untuk mampir membeli batik di Omah Laweyan Solo. Kebetulan sebelumnya aku sudah membaca mengenai tempat ini, di sini juga ada kursus membatik lho! Tapi ternyata karena kami ke sana hari Minggu, kursusnya sedang tutup karena ibu yang mengajarkan batik sedang libur. Padahal kursusnya cukup murah lho, hanya 60rb aja udah bisa belajar batik selama 1 jam. Karena udah ke sana akhirnya kami membeli beberapa batik yang akan dipakai untuk acara besok. Aku juga membeli hijab dan syal batik. Bagus-bagus banget deh batiknya. Harganya variatif dengan target pembeli menengah ke atas.

Belajar Batik di Batik Putra Mahkota Laweyan

Setelah keluar dari Omah Laweyan, aku dan suami bingung mau ke mana lagi. Aku masih kepunan pengen belajar membatik. Akhirnya setelah berjalan kaki gak jauh dari Omah Laweyan kami ketemu banner Batik Mahkota Laweyan yang ternyata juga membuka kursus membatik. Maka kami iseng masuk ke area yang tempatnya masuk ke dalam gang-gang kecil dan bernuansa tradisional Solo itu. Setelah bertanya ke mba-mba yang ada di sana, ternyata mereka bersedia menerima kami untuk belajar membatik meskipun saat itu hanya aku dan Alif berdua saja yang mau belajar batik. Tarifnya juga lebih murah, hanya 55rb saja bisa belajar membuat batik tulis dan melihat langsung proses pembuatannya. Hasil akhir dari proses membatik ini boleh kita bawa pulang sebagai kenang-kenangan. Whaa.. asik banget pokonya membatik di sini! ;)

Awalnya aku dan Alif diajak menggambar dulu pola batik yang ingin kami buat di sebuah kain di atas meja kaca yang di bawahnya disinari lampu. Kami menggambarnya dengan menggunakan pensil. Karena aku tidak pandai menggambar, aku memilih pola yang sederhana saja.. hehe.. ;)) Setelah itu kami diajak ke sebuah tempat untuk belajar menggunakan canting (alat untuk mempertegas pola batik) dan malam (cairan berupa lilin yang dilelehkan). Setelah itu kami pindah ke sebuah tempat untuk mewarnai batik. Di sana sudah disediakan beberapa pilihan warna yang bebas kami pilih. Menariknya pewarnanya ini adalah pewarna alami lho. Paling asik di tahap ini karena kita bisa bebas berkreasi untuk mempercantik batik yang mau dibuat. Setelah diwarnai, kain dijemur terlebih dahulu. Selama menunggu kainnya kering, kami diajak untuk berjalan-berjalan dan melihat beberapa barang yang ada di showroom. Ada lukisan, ada juga baju, kain, aksesoris, sendal, kutu baru, mukena, dan banyak deh pokonya! Harganya relatif terjangkau lho! Jika ingin membeli batik print yang dibuat massal, harganya relatif murah. Jika membeli batik cap akan lebih mahal, dan yang paling mahal adalah harga batik tulis dan kombinasi. Semuanya juga tergantung bahan kain yang dipakai.

Aku pun membeli beberapa barang di sana untuk kami pakai dan untuk oleh-oleh. Setelah itu kami kembali melihat batik yang tadi dijemur. Setelah kering, batik ‘dikunci’ pewarnaannya agar tak mudah luntur dengan sebuah media dan alat. Batik tadi dicelupkan ke cairan yang menyerupai minyak, lalu di-press dengan sebuah alat dan dijemur kembali. Setelah kering batik tadi direbus lalu dikeringkan kembali. Dan akhirnya.. jadi deh! Hasil batik ini bisa kami bawa pulang :)

Mencoba Tengkleng Legendaris; Tengkleng Bu Edi di Pasar Klewer

Setelah asik belanja dan belajar membatik, kami putuskan untuk makan siang di pasar Klewer. Kenapa di pasar Klewer? Karena katanya di sana ada tengkleng enak yang sudah melegenda! :D Tapi sebelum ke sana kami mampir sebentar ke rumah bu Dhe-nya suamiku. Kebetulan rumah beliau masih di daerah Laweyan. Setelah itu kami langsung mencari taksi dan minta dibawa ke Pasar Klewer. Di sana kami sempat melihat beberapa penjaja barang-barang antik khas Solo. Aku dan suami sempat membeli blankon Solo lalu kembali mencari tengkleng yang legendaris itu; Tengkleng Bu Edi. Ternyata bener, tengkleng ini legend banget. Saat kami tiba, tengkleng bu Edi ini ramenya minta ampun. Alif sampe gak tahan diajak ngantri. Akhirnya aku dan Alif duduk lalu suami rela antri sendirian deh.. hihii.. ;))

Bener aja, tengkleng ini enak! Tengkleng kambingnya disajikan panas-panas di atas daun pisang. Di dalamnya ada beberapa tulang kambing yang ditempeli beberapa daging dan ada satenya yang dagingnya sangat empuk. Kuah kaldunya juga berasa dan nikmat banget! Sayangnya Alif gak mau mencoba tengkleng ini. Akhirnya setelah makan tengkleng bu Edi aku dan suami mencari nasi goreng untuk Alif. Karena aku masih ‘terngiang-ngiang’ sama kenikmatan tengkleng bu Edi tadi, aku pun kembali memesan tengkleng di warung makan tempat kami membeli nasi goreng untuk Alif di pasar Klewer. Aku dan suami makan tengkleng sepiring berdua. Ternyata tengkleng di warung ini juga enak lho. Wah wah, aku jadi jatuh cinta nih sama tengkleng! :))

Belanja Oleh-oleh di Pasar Klewer & Makan Murah di Solo

Setelah makan kami masuk ke pasar Klewer. Konon katanya di sini batiknya lebih murah dan ada banyak pilihan. Kamipun membeli oleh-oleh di sana. Ada banyak barang antik juga yang dijajakan di sana, tapi karena kami tidak berniat membeli akhirnya kami hanya cuci mata sebentar lalu kembali ke hotel. Malamnya kami mencari makanan di warung seberang hotel. Ternyata cukup murah ya harga makanan di Solo. Di warung itu kami cukup membayar 7rb rupiah saja, sudah dapat nasi dengan lauk ayam bakar dan potongan telur dadar. Untuk harga perminuman hanya 4rb saja pergelas, kami sudah bisa menikmati aneka milshake, kopi, atau minuman teh susu rasa buah yang aku pesan. Itu pun jika datang dihari dan jam tertentu kami dapat menikmati FREE roti bakar. Ahh.. makin cinta deh sama kota ini! :D

Nonton dan Festival Kuliner Merah Putih di Solo Square

Saat suami menghadiri acara Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) oleh POGI (Persatuan Obstetri dan Ginegologi Indonesia), suami mendapat undangan untuk acara Solo Heritage Night yang juga diadakan oleh POGI bersama keraton Surakarta. Di acara ini katanya akan diadakan pameran batik dan jamu khas Solo, aneka kuliner, serta ada penampilan KLAkustik juga. Acara ini diadakan di Keraton Surakarta Hadiningrat yang ternyata lokasinya berdekatan dengan Pasar Klewer. Kata panitia para undangan diperbolehkan membawa serta keluarga, akhirnya suami mengajak aku dan Alif untuk ikut. Menurut info di undangan, para tamu wanita diharapkan menggunakan kain atau rok. Karena aku gak membawa rok dan ‘stok bawahan’-ku juga semakin menipis, akhirnya aku kepikiran membeli rok di sana.

Sekitar 500 meter dari hotel ada sebuah mall, Solo Square. Aku berjalan kaki berdua Alif ke sana. Di sana aku dan Alif sempat menonton film Ice Age di XXI. Setelah nonton kami lanjut belanja dan makan siang. Ternyata di lantai dasar sedang ada festival Kuliner Merah Putih yang diadakan dalam rangka menyambut hari kemerdekaan. Aku dan Alif sempat berkeliling sebentar melihat aneka kuliner yang dijajakan di sana. Tapi Alif lebih tertarik membeli donat aja (mungkin masih kenyang karena sebelumnya kami sudah makan siang). Sedangkan aku membeli makanan khas Korea yang bernama: Chon-Bokki. Isinya fried chicken, fried potato, nasi, serta makanan khas Korea – Tteobokki, yang disiram dengan saus khas Korea. Rasanya unik dan enak sekali. Sayang porsinya cukup kecil, mungkin ini hanya porsi ngemil bagiku. Hehe.. ;))

Solo Heritage Night di Keraton Surakarta Hadiningrat

Kami menggunakan shuttle car yang disediakan panitia menuju venue acara. Begitu datang kami langsung diminta berphoto (oleh fotografer bodrek) lalu panitia meminta kami masuk dan duduk di kursi yang telah disiapkan. Saat acara baru dimulai kami disuguhi snack seperti lemper yang diluarnya diselimuti telur dadar tipis serta di atasnya diberi saus putih (aku kurang tau ini namanya apa), yang jelas rasanya enak mirip lemper. Lalu ada satu kue potong, teksturnya lebih padat namun tetap empuk, kuenya basah seperti habis disiram cairan seperti susu. Lalu kami juga disuguhi teh hangat di meja. Setelah itu sambil menyaksikan acara kesenian tari-tarian keraton ternyata peserta di belakang sudah ramai yang mengunjungi booth-booth makanan berat. Aku dan suami ikut mengantri. Makanan yang disajikan seperti tengkleng (tapi aku gak ikut nyobain karena antriannya panjang sekali :( ), bakmi, sate kambing, dan banyak lagi. Aku sendiri sempat mencoba bistik lidah dan es puternya yang rasanya yummy sekali :)

Setelah kenyang, para tamu dapat mampir ke booth batik. Di sana dijajakan batik khas Solo, mulai dari kain, baju, sampe aksesoris. Karena kami sebelumnya sudah membeli batik, akhirnya saat itu kami hanya mencuci mata saja. Batiknya bagus-bagus dengan harga yang bervariatif pula. Setelah melihat pameran batik, aku dan suami berencana  pulang karena Alif terlihat mulai gak betah, dia gak mau mencoba makanan apa pun di sana. Jadi kami tidak sempat melihat pembuatan jamu tradisional dan menyaksikan penampilan KLAkustik. Setelah menyetop taksi kami kembali ke hotel dan mencari makanan di sekitaran hotel untuk Alif.

Lari 5K di Edu Park UMS Solo & Jajanan Angkringan

Udah jauh-jauh ke Solo rasanya kurang afdhol kalau belum ‘meninggalkan jejak’ di kota ini. Hihii.. ;)) Dihari terakhir acara bersama POGI suami bisa pulang lebih awal dari hari sebelumnya. Akhirnya kami berencana lari sore. Kami memutuskan untuk lari di Edu Park UMS Solo, karena kalau liat dari review tempatnya di google, tempat ini termasuk salah satu tempat yang paling direkomendasikan sebagai tempat lari pagi dan sore yang nyaman. Di sana ada beberapa jogging track yang di kiri kanan serta tengah-tengahnya banyak pepohonan dan aneka jenis tanaman. Beberapa tanaman diberi label nama, mungkin supaya siapa saja yang ke sini bisa memahami jenis-jenis tanaman yang ada di sana.

Di depan taman ini ada restaurant, Dapur Solo. Setelah lari 2K, Alif dan suami memutuskan untuk istirahat dana makan di sana. Suasanya asik ada kolam ikan dan saung juga. Di seberang restaurant itu juga ada mini playground, jadi kalau bosen Alif bisa bermain di sana. Sementara aku melanjutkan untuk berlari hingga 5K. Di deket jogging track itu juga ada lapangan sepak bola. Dan di atas jam 4 sore pengunjung taman itu mulai ramai, ada yang lari, main badminton, skateboard, bola, atau bahkan sekedar berkumpul, duduk-duduk, atau berphoto bersama keluarga dan teman. Setelah berlari sejauh 5K kami pun balik ke hotel. Malamnya kami dikunjungi sepupu suami dan keluarganya. Mereka membawakan kami wedang ronde dan makanan dari angkringan yang enak-enak seperti aneka sego kucing dan beragam jenis sate. Wah, asik dan unik banget pokonya! :D

0 Solo Header Nieke fixed

Malam itu kami langsung packing, karena setelah subuh kami langsung berangkat ke bandara Adisumarno untuk kembali ke Riau. :)

Leave a Reply